The Essence of Fasting during Lent

What is our understanding of fasting? Fasting should not only be about abstaining from food and drink, but, more importantly, it is a repentance to transform life towards holiness. Unconsciously, we have done many things in life that may have hurt others or even ourselves physically, emotionally, or mentally. It leads us into a life of sin. Fasting gives us the opportunity to refrain from continuing to behave or act according to our own desires.

Before fasting, we should have understanding, determination, commitment, and discipline to be able to control ourselves. There are many ways to fast personally in thought, behaviour, and speech.

If we…

  • have a habit of using harsh words, cursing, and hurting feelings; change them to polite, sweet, and gentle words
  • are quick-tempered, envious, vindictive, and self-centred; change to obedient, patient, compassionate attitudes, and bring forgiveness and peace
  • have doubts, fears, pressures, sadness, and bitterness; fill ourselves with prayer, trust in God, and fill our hearts with joy
  • feel desperate and complain; enjoy simple things in life and be grateful
  • enjoy gossiping and talking too much; fill ourselves with silence and be ready to listen to others

Each of these changes needs to go through a process that we may not like, find burdensome, or require sacrifice. We need to be aware, accept, and acknowledge every weakness and strength of ours so that we can have a broader perspective and be ready to transform life for the better. Every day, with humility, we pray for our lives to be renewed and sanctified.

We should not feel burdened or compelled but willingly and openly fast. Especially during this pre-Lenten season, with God’s grace, we can slowly reflect and transform our lives for the better. Fasting brings us closer to God. (Br. Bonny)


Apakah pemahaman kita tentang berpuasa? Berpuasa seharusnya bukan sahaja berpantang makan dan minum namun, yang penting juga adalah pertaubatan untuk mengubah kehidupan kepada kekudusan. Tanpa disedari, kita telah melakukan banyak perkara dalam kehidupan yang mungkin telah melukai orang lain bahkan diri kita sendiri secara fizikal atau emosi atau mental. Ianya membawa kita terjeremus ke dalam kehidupan dosa. Berpuasa memberi kesempatan kepada kita untuk mengindari diri daripada terus berkelakuan atau bertindak mengikut kehendak sendiri.

Sebelum berpuasa, kita hendaklah mempunyai pemahaman, azam, tekad dan disiplin agar dapat mengawal diri. Terdapat banyak cara berpuasa secara peribadi dalam pemikiran, perlakuan dan pertuturan. Sekiranya kita…

  • mempunyai tabiat menggunakan kata-kata yang kesat, menyumpah dan menyakiti hati; ubahlah dengan kata-kata yang sopan, manis dan lembut
  • seorang yang panas baran, dengki, berbelas dendam dan mementingkan diri sendiri; ubahlah dengan sikap taat, sabar, berbelas kasihan dan bawalah pengampunan dan perdamaian
  • mempunyai keraguan, ketakutan, tertekan, kesedihan dan kepahitan; penuhilah diri kita dengan berdoa, percaya kepada Tuhan dan penuhilah hati kita dengan sukacita
  • berputus asa dan mengeluh; nikmatilah perkara-perkara yang sederhana dalam kehidupan dan bersyukur
  • suka bergosip dan bercakap banyak; penuhilah diri kita dengan keheningan dan bersedia untuk mendengarkan orang lain

Setiap perubahan ini perlu melalui proses yang mungkin kita tidak sukai, berat atau terpaksa berkorban. Kita perlu sedar, menerima dan mengakui setiap kelemahan dan kekuatan kita supaya dapat berpandangan lebih jauh dan bersedia untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Setiap hari dengan kerendahan hati kita berdoa agar kehidupan kita diperbaharui dan dikuduskan.

Kita tidak seharusnya berasa terbeban atau terpaksa namun kerelaan dan keterbukaan diri untuk berpuasa. Berpuasa terutamanya pada musim prapaska ini, dengan rahmat Tuhan sudah pasti kita sacara perlahan-lahan dapat merenung dan mengubah kehidupan kita menjadi yang lebih baik. Berpuasa membawa kita dekat dengan Tuhan.

Brother Boniface Chang is from Kota Padawan, Kuching. He’s a student at College General Penang and is doing a one-year Pastoral Work at the Church of the Nativity of the Blessed Virgin Mary and Saints Chastan & Imbert.